Perjanjian Gaib Kanjeng Ratu Kidul

Perjanjian Gaib Kanjeng Ratu Kidul Hanya Sampai Raja Yang Ke-10?

Perjanjian Gaib Kanjeng Ratu Kidul Hanya Sampai Raja Yang Ke-10? – Sebuah pertanyaan yang tentu sangat sulit dianalisa. Bagaimana tidak, perjanjian gaib antara Kanjeng Ratu Kidul dengan para penerus dinasti Mataram Islam bersifat abadi dan selamanya. Setiap raja dinasti Mataram Islam yang bertahta secara otomatis terikat perjanjian gaib yang telah dikukuhkan para pendahulunya. Tentu tidak mungkin perjanjian tersebut bakal terputus.

Perjanjian tersebut bersifat politis sebagai syarat kelanggengan Kerajaan Mataram Islam dan penerusnya. Tak hanya secara politis, perjanjian gaib itu juga mengharuskan setiap raja penerus dinasti Mataram Islam yang bertahta mengadakan kontak batin berwujud perkawinan gaib, sehingga setiap Raja Mataram Islam adalah suami spiritual Kanjeng Ratu Kidul. Untuk mengadakan kontak batin, setiap upacara penobatan atau peringatan kenaikan tahta, digelar sebuah tarian sakral bedhaya sebagai lambang percintaan.

Kendati demikian, muncul kabar bahwa perjanjian gaib tersebut terputus sejak satu kejadian yang meluruhkan seluruh hubungan antara raja-raja Mataram Islam dengan Kanjeng Ratu Kidul. Dalam alam pikir masyarakat Jawa, peristiwa tersebut dimaknai sebagai perlambang habisnya kekuasaan Dinasti Mataram. Berikut kisah perjanjian gaib Ratu Kidul hanya sampai raja yang ke-10?


Artikel Terkait : 

Hati-Hati! Selasa Kliwon, Hari Keramat Kanjeng Ratu Kidul


Perjanjian Gaib Kanjeng Ratu Kidul Hanya Sampai Raja Yang Ke-10?

Kisah terputusnya perjanjian tersebut terjadi di Keraton Surakarta. Dikisahkan, untuk mengadakan pertemuan gaib dengan Kanjeng Ratu Kidul, raja Surakarta membangun sebuah menara setinggi 30 meter bernama Panggung Sangga Buwana. Pada bagian teratas menara terdapat ruang khusus yang digunakan sebagai tempat untuk bersemedi dan bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Pada suatu ketika, Paku Buwana IX hendak mengadakan ritual pertemuan dengan Kanjeng Ratu Kidul di lantai teratas Panggung Sangga Buwana. Sang raja mengajak putra mahkota yang kelak menggantikannya sebagai raja, Raden Mas Gusti Malikul Kusno. Saat akan menaiki anak tangga menara, putra makhota terpeleset dan hendak terjatuh. Secara tiba-tiba, ia Kanjeng Ratu Kidul hadir dan menyelamatkannya sambil mengucap,‘’ngger, anakku’’  (oh, anakku).

Perkataan tersebut seolah menjadi sabda yang tak bisa dicabut. Menurut pandangan spiritual, peristiwa tersebut dimaknai sebagai sebuah wangsit dan tanda bahwa generasi penerus raja Mataram di Keraton Surakarta hanya sampai pada Paku Buwana IX, sedangkan Paku Buwana X tak lagi menjadi istri spiritual Sang Ratu, melainkan dianggap sebagai anak. Tetapi, ia akan tetap selalu hadir pada saat-saat tertentu di dalam keraton.

Sedangkan secara politis, peristiwa terjatuhnya putra mahkota Surakarta dimaknai sebagai perubahan jaman sebuah dinasti kerajaan. Paku Buwana X adalah raja yang paling masyur dan berjaya di dinasti Surakarta. Paku Buwana X dan generasi setelahnya memang dihadapkan pada jaman baru dengan segala dinamika politik, ekonomi, dan kebudayaan yang sangat berubah. Mau tidak mau, seorang raja Jawa harus bisa tampil menghadapi tuntutan jaman yang makin berubah.

Perubahan itulah yang akhirnya juga menggeser pola pikir lama dari kekolotan menjadi lebih modern sesuai yang dikehendaki jaman. Begitu pula, kontrak politik secara gaib dengan Kanjeng Ratu Kidul akan dihadapkan dengan kontrak politik dunia yang lebih nyata.

Itulah kisah perjanjian gaib Kanjeng Ratu Kidul hanya sampai raja yang ke-10. Semoga membuka wacana baru.

197 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Comments

comments