Bedhaya Ketawang, Tarian Sakral Kanjeng Ratu Kidul – Pada artikel sebelumnya disebutkan bahwa penguasa laut selatan, Kanjeng Ratu Kidul akan selalu hadir di dalam keraton pada saat-saat tertentu, misalnya saat kenaikan tahta raja baru atau peringatan kenaikan tahta yang dikenal dengan tingalan jumenengan dalem. Pada saat upacara penobatan maupun peringatan kenaikan tahta raja, dipergelarkan tarian pusaka Bedhaya Ketawang. Tarian Bedhaya Ketawang merupakan tarian sakral yang hanya boleh ditarikan oleh para wanita yang masih gadis di dalam keraton. Berikut kisah lengkap Bedhaya Ketawang, tarian sakral Kanjeng Ratu Kidul. Bedhaya Ketawang, Tarian Sakral Kanjeng Ratu Kidul Bedhaya berarti tarian Jawa halus yang ditarikan oleh 7 atau 9 wanita, sedangkan ketawang berasal dari kata ‘tawang atau awang-awang’ yang berarti langit, bisa dikatakan Bedhaya Ketawang merupakan tarian langit yang sangat sakral. Nama ketawang juga dikaitkan dengan Gendhing Ketawang Ageng yang mengiringi tarian tersebut. Ada yang mengatakan tarian tersebut diciptakan oleh Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma raja Mataram. Dikisahkan suatu ketika Sultan Agung mengheningkan cipta di tengah malam yang hening dan sepi, hanya terdengar suara binatang-binatang malam yang syahdu dan mendayu seperti suara gamelan para dewa Lokananta dari kayangan. Pada saat bersamaan, terdengar suara gaib berupa suara tembang yang begitu indah mengalun memenuhi angkasa. Seketika Sultan Agung teringat para dewa yang bertapa dan memancarkan 7 aura cahaya berwujud bidadari berbaris berjajar menari di samudera suralaya kayangan diiringi gendhing dari gamelan Lokananta. Peristiwa itu membuat Sultan Agung akhirnya membuat tari bedhaya persis seperti tarian para dewa itu, sedangkan gendhingnya disesuaikan dengan suara gaib yang terdengar di tawang, awang-awang, sehingga terciptalah Bedhaya Ketawang. Versi lain mengatakan, Bedhaya Ketawang diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kidul sendiri. Itulah mengapa, ia akan selalu hadir saat digelar latihan tari Bedhaya Ketawang setiap Selasa Kliwon. Konon, ia akan melatih sendiri para penari dan membetulkan setiap gerakan yang salah. Bagi yang bisa melihat, Kanjeng Ratu Kidul akan hadir menjadi penari ke 10 atau merasuki salah satu penari Bedhaya Ketawang. Penari tersebut akan terlihat berbeda dari penari lainnya karena terlihat lebih cantik, luwes, halus, dan memancarkan aura mistis. Bedhaya Ketawang merupakan bentuk tarian percintaan karena melambangkan hubungan antara raja-raja Mataram dengan Kanjeng Ratu Kidul. Setiap gerakan para penari menggambarkan cumbu rayu. Raja yang duduk di singgasana akan terlihat diam dan tenang karena menyambut kedatangan Kanjeng Ratu Kidul. Tarian tersebut juga menjadi sarana meditasi bagi raja, sehingga semua yang hadir diharuskan diam saat pementasan Bedhaya Ketawang berlangsung. Kesakralan Bedhaya Ketawang juga mensyaratkan para penari harus masih gadis dan tidak sedang masa menstruasi. Jauh-jauh hari sebelum pementasan, mereka diwajibkan tinggal di dalam keraton untuk menjalani seluruh rangkain ritual sengkeran atau masa pingit. Sesaji lengkap juga harus disediakan sebagai ritual agar Kanjeng Ratu Kidul berkenan hadir. Demikian cerita dibalik Bedhaya Ketawang, tarian sakral Kanjeng Ratu Kidul.

Bedhaya Ketawang, Tarian Sakral Kanjeng Ratu Kidul

Bedhaya Ketawang, Tarian Sakral Kanjeng Ratu Kidul – Pada artikel sebelumnya disebutkan bahwa penguasa laut selatan, Kanjeng Ratu Kidul akan selalu hadir di dalam keraton…

138 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

View More Bedhaya Ketawang, Tarian Sakral Kanjeng Ratu Kidul